Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 21 Desember 2009

Panorama Musim Dingin Seorang Tahanan (Terbaik 1)

Oleh: Prima Yulia Nugraha


dari lorong yang jauh seseorang menggema:
"ini bukan tempat singgah sementara!"
udara di sini mengendap jadi batu dan pada dinding tak ada rajah tapi
hanya lumut dan rasi bintang di atap tak beralih semenjak sakramen
terakhir diurungkan
adakah kita pernah berada di kehidupan ini? atau barangkali kehidupan ini terlalu tergesa seperti arus sungai yang setia membentur punuk batu?
dan wajahmu nampak beludru: dosa yang menjemput maut agar
menjelma bisik-bisik gaib di jam lengang tanpa dengung insekta, gemerisik semak-semak, ataupun desau angin yang lewat
lalu di detik yang mulai hanyut akan kau dengar dengkur penjaga yang tanpa ritme; dentang lonceng ke-30 yang menjadikan setiap kata tak perlu diucapkan
maka di tengah malam itu pun kau memindai suluh dari sisi tembok seperti api dari perapian yang sci dan murni: api yang membakar iman dan api yang menuntaskan bait-bait sajak
namun senantiasa kau susuri juga ingatanmu yang sayup-sayup itu:
sewaktu salju membebat sebelum malam tinggal kelebat seorang
perempuan paruh baya tengah menjerumat pakaian dan ia juga
yang segera membakar kayu-kayu supaya hangat meredam angkuh ruang tamu;
suatu ketika seorang lelaki yang belum genap sepuluh tahun tak
bisa memejamkan mata karena terjangkit insomnia dan perempuan itu
juga yang membacakan dongeng-dongeng yang usang sambil tak
menyadari jika waktu bergerak begitu singkat
adakah kita pernah bersua?
dua pucuk pistol yang kau terka di sebelah piring sarapan pagi seperti
kunci pintu sorga yang entah itu meskipun tak ada misa tak ada gereja
katamu di sini hanya ada kelam di sini tak ada pergantian siang dan
malam bahkan jejak-jejak yang kau lihat saban pagi semakin menjauh
dan tak berbekas
anyir dan bau kematian pun merebak ketika seorang raja murka:
melebur jeruji sel,
melelehkan perabot,
mengangkat lantai,
melenyapkan nama,
tapi betapa permaisuri berkata demikian:
kenapa bisa jadi begini?
bagaimana aku tak mengerti?
fermentasi anggur di kastil tua ini berlangsung gegas seperti sajak yang
rentan mencapai klimaks seperti telur-telur Paskah yang menetas di
laboratorium seperti abad yang tenggelam dalam amsal yang
serampangan seperti panorama musim dingin yang lekas selesai
adakah kehidupan ini hanya ilusi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar