Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 03 Januari 2012

Perih Menyayat Derita


Lelah senja menguning termenung dalam

sunyi menerpa derita begitu menyiksa

nafas menderu berhembus keprihatinan

terasa perih pijakan kaki kehidupan

duri menusuk laksana sayatan tajam

hidup terlantar dalam kubang kengerian.


Di sana terdengar tangisan

merengek perut memekik mengharap sebutir harapan

kering kerontang mencekik leher

setetes kedamaian melumer

tak jua datang kasih sayang

tiada bertandang tamu dermawan

hidup penuh penderitaan


Pakaian kumal terajut penuh tambalan

tangan kering terkapar mengharap sesuap penghilang rasa lapar

tumit berpijak di atas jembatan kemiskinan

menyisir derita nampak terjal penuh kerikil tajam.


Langit terpejam diam

angin lembah merintih membawa aroma kedukaan

pagi hambar terasa buram.

Terseok ia menyeret langkah kaki

mencoba bertahan meniti jalan perih

mengais serpihan harapan dalam hidup menuju kebahagiaan


Namun perih begitu menghujam

senyuman tak sudi menghilangkan dahaga lapar

mata terpincing menerka para Saudagar

mengiba belas kasihan, merintih ia dalam-dalam

tertahan tangis karena tiada senyuman kehangatan

“Tuan, kasihani saya, Tuan”

Ia tertatih melantunkan rengekan kemiskinan


Begitu kejam kehidupan

tak jua tersentuh para pemakai sepatu hitam

berdompet tebal.


Seakan bumi tak terima pijakan lemah mengotori.

Dan ketika keringat menjadi lelah

kulit keriput terasa merinding

“Hai pergi! Kau mengotori keindahan!”


Badai mengoyak porak-poranda

si miskin tersisih, tiada terima mencicipi kebahagiaan

daratan tak sudi memapah, seakan mengutuki dirinya

“Dasar sampah!”


Tusukan tak lagi berupa senjata tajam

darah air mata mengalir dari suara penuh hujatan

“Apakah saya berdosa hidup miskin?”

Tangisan mengiringi saat hidup terasa mati.



Oleh : Irfan Fauzi Pemulung Ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar