Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 16 Oktober 2011

“POPEYE THE SAILOR” : ANTARA EKOLOGI DAN IDEOLOGI

“POPEYE THE SAILOR” : ANTARA EKOLOGI DAN IDEOLOGI

Oleh: Farah Pramudita

Pasti diantara kita sudah banyak yang mengetahui film kartun Popeye, sejak kecil sampai dewasa sekarang lebih dari sekali kita menonton film ini, bahkan untuk satu episode bisa diulang beberapa kali ditayangkan di televisi dan kita dengan sengaja atau hanya sekadar iseng tidak bosan menyimaknya. Inilah salah satu film klasik yang sangat melegenda di tengah-tengah masyarakat. kita hafal seruh karakteristik para tokohnya, alurnya, setting tempatnya, bahkan ujaran-ujaran yang sering dilontarkan oleh para tokoh kartunnya

Film Popeye yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1919 ini terus mendapatkan tempat di hati para penonton. Bagi orang dewasa mungkin akan ada nostalgia saat melihat film ini, tetapi bagi anak-anak kecil, film Popeye merupakan film yang baru mereka lihat, sehingga anak-anak sangat antusias merespon film ini.

Layaknya musuh bebuyutan, Popeye dan Brutus selalu bertengkar memperebutkan Olive. Tidak aneh lagi jika mereka sering menampilkan sifat kejantanannya kepada Olive, seperti tindakan Brutus yang sekali-kali terkadang mencuri perhatian Olive dengan membawakan beban yang dibawanya, atau menolong dari situasi yang berbahaya. Akan tetapi, Olive yang sudah terpancang hatinya kepada Popeye selalu menampik bantuan dan perhatian Brutus kepadanya. Bagaimanapun juga, itulah salah satu pemantik api cemburu Popeye, sehingga dia melakukan perlindungan terhadap Olive dari gangguan Brutus. Seperti kebanyakan kisah epik, para hero selalu mendapatkan kekalahan di awal. Begitupun dengan Popeye dengan badannya yang kurus melawan Brutus yang gemuk, Popeye selalu kalah terlebih dahulu.

Namun, setelah itu, kekuatan pada Popeye akan kembali, setelah dia memakan bayam. Efek dari memakan bayam tersebut, timbulah power dan keberanian pada diri Popeye untuk bangkit membayar kekalahannya. Dengan otot yang menonjol dan dengan sedikit “imaginasi hiperbola” ala kartun, tubuh Popeye menjadi tinggi besar dan hal ini semakin memantapkan Popeye untuk melawan dan melumpuhkan Brutus.

Dengan kekuatan baru, Popeye melumatkan musuh abadinya, dan akhirnya Olive kembali ke pangkuan Popeye. Dengan hati yang senang Olive sering mengatakan “oh..,Popeye pangeranku, terimakasih telah menyelamatkanku”, jika sudah seperti itu, hati Popeye pun melambung dengan sunggingan senyumannya yang khas sambil mengepulkan pipa rokok di pinggir bibirnya.

Kurang lebih seperti itulah penggalan episode dari film Popeye. Selalu menarik untuk ditonton meski diulang-diulang alur ceritanya, selalu ada ekspresi senyuman dari penonton meski hanya sunggingan seperti Popeye, terlepas dari motivasi senyumannya, apakah cerita Popeye itu terlalu konyol, atau mungkin karena intensitas pengulangan film tersebut yang membuat penonton menyeringai sambil berkata dalam hati “apa gak ada tayangan lain selain ini? Perasaan diulang-ulang terus?”. Beragam memang tanggapan dari masayarakat, tetapi kita tidak dapat men-generalisir trend terhadap tayangan tersebut, meskipun banyak respon yang beragam, toh faktanya, masih ada stasiun televisi yang menayangkannya dan ini menandakan masih ada estimasi penonton terhadap tayangan Popeye dari generasi ke generasi.

Saat pertama kali kita melihat film yang berjudul asli “popeye the Sailor” ini, mungkin saat itu kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Disaat yang bersamaan itu pula kita masih menjadi “penikmat kartun” yang dengan polos dan lugunya mengagumi film Popeye. Namun waktu terus berjalan, kita tumbuh dewasa dan repitisi film popeye pun terus berlangsung, maka disinilah kita harus berganti peran menjadi seseorang yang kritis terhadap fenomena ini. Kita menatap jauh keluar dari alur genre cerita, yakni melihat dengan resepsi (penerimaan) yang berbeda. Penerimaan tersebut akan disandarkan pada harapan yang dirumuskan oleh Seger1, seorang sastrawan, yaitu dalam karakteristik:

  1. Norma-norma yang timbul dari sebuah fenomena dan direspon oleh manusia.
  2. Pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
  3. Pertentangan antara fiksi dan kenyataan baik dalam horizon sempit atau luas.

Dengan cakrawala harapan ini kita berusaha untuk mengisi ruang kosong (open plek) dalam istilah Iser bahwa sebuah karya sastra selalu memiliki ruang kosong untuk diisi oleh para peminatnya2. Dengan demikian, ada jastifikasi saat kita melihat salah satu gejala yang timbul, karena jastifikasi tersebut untuk memenuhi cakrawala harapan yang disesuaikan dengan berbagai variabel lainnya, seperti teori, dan pengalaman.

Ada dua tanda (sign) yang dominan dalam film ini, yakni tanda lingkungan (ekology) dan politis (ideology) Seperti bayam dan lautan, itu merupakan ciri khas lingkungan bangsa timur termasuk Indonesia yang terkenal dengan pertaniannya dan dijuluki dengan negara maritim. Tanda-tanda tersebut melekat pada Popeye yang selalu ditindas oleh Brutus yang direpresentasikan sebagai orang Barat. Merujuk pada kamus Webster, bahwa Brutus mrupakan adopsi dari nama Marcus Junius, seorang negarawan Roma (85-42 B.C) salah satu konspirator dalam pembunuhan Julius Caesar.

Pada mulanya, penamaan tokoh antagonis ini yaitu Bluto, namun karena King Feature yang menerbitkan film ini ingin meningkatkan rating tinggi, maka penamaan Bluto diganti menjadi Brutus. Tetapi sayangnya tidak diketahui dengan pasti muncul ke publik tentang keterangan pergantian nama ini. Sealanjutnya, tokoh Olive merupakan reprsentasi dari kekayaan timur tengah yang berupa minyak. Olive memiliki makna denotatif yakni tanaman yang diekstrak menjadi minyak (Oil). Jika telah diklasifikasikan seperti itu, maka ada pergeseran sudut pandang yang lain, yakni makna ideologis dari film Popeye. Agar lebih jelas kedudukannya, digambarkan sebagai berikut:




POPEYE MAPPING


Kita melihat dalam film Popeye, Brutus selalu berusaha sekuat tenaga mendapatkan Olive, apapun caranya pasti akan ditempuh sampai titk darah penghabisan. Tetapi sebaliknya, Popeye dengan penuh kegigihan mempertahankan Olive agar tidak jatuh ke tangan Brutus.

Hal itu mengindikasikan tendensius ideologi, politik, ekonomi, dan sosbud. Jika mengacu pada popeye mapping akan diketahui kenapa Eastern (Popeye) selalu melindungi kawasan Middle East (Olive) yang notabene melimapah energi minyakya. Karena secara solidaritas kawasan Timur dan Timur Tengah memiliki ikatan yang kuat, apalagi jika dihubungkan dengan masalah keagamaan, untuk masalah yang satu ini kadang bermunculan kelompok-kelompok ekstrim atas nama agama demi membela tanah air. Dalam pertempuran sengit antara Popeye dengan Brutus, tidak jarang Brutus melumpuhkan Popeye dengan membabat habis kebun bayamnya, hingga Popeye tidak punya kekuatan lagi, namun selalu saja ada jalan bagi Popeye untuk mempertahankan dirinya dan Olive, karena tiba-tiba selalu saja ada satu atau dua kaleng bayam yang di simpan entah itu di lemari kamarnya, atau di balik bajunya. Penggalan cerita ini, memberikan sinyal bahwa Barat (Amerika dan sekutunya) akan memberangus negara-negara yang menghalangi tujuan mereka. Selain itu, dengan tetap mengacu pada film tersebut, dapat dilihat bahwa Olive (Timur Tengah) sangat lemah sehingga ada kemungkinan direbut oleh Brutus jika Popeye tidak segera menolongnya. Hal senada dinyatakan oleh Pershing bahwa:

Environmental awareness is low in Saudi Arabia. The political discourse is

not about social responsibility or environmental constraints and there seems to

be a consensus that environmental issues end at the borders.3

Sehingga dengan demikian harus ada sebuah “penyadaran dan pendidikan” agar Middle Eastern tidak dengan mudah dikuasai sumberdaya alamnya oleh bangsa lain. Dari dahulu, manusia memang selalu menabuh genderang beperangnya hanya untuk memenuhi keinginannya, ketika Portugis datang menjajah Indonesia, mereka membawa misi 3G : Gold, Glory, Gospel. Untuk memenuhi misi Gold (kekayaan), maka konsekuensinya adalah menambang tanpa memperhatikan dampak buruknya bagi lingkungan.

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Negara Adi Kuasa untuk menguasai energi dan sumberdaya alam di manapun tempatnya, mereka pasti ada di sana untuk berniat menggali dan mengeksploitasi secara besar-besaran atau yang lebih ekstrimnya, mereka selalu ingin menguasai dan memilikinya meskipun berada di luar daerah teritorialnya. Sehingga keberlanjutan (sustainability) dari sumberdaya alam tidak ada, dengan demikian dampak tersebut akan menyebabkan tingkat kesejahteraan manusia untuk dapat survive menjadi menurun seiring dengan runtuhnya sendi-sendi daya dukung lingkungan.

*) Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan-Universitas Padjadjaran Bandung

Referensi:

  1. Pradopo, Djoko Pradopo. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metod Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Ibid, hal.208
  3. AARTS ,PAUL, Et.al. 2003. Shades of Opinion: The Oil Exporting Countries and International Climate Politics. The Review of International Affairs, Vol.3, No.2, Winter 2003, pp.332 – 351. ISSN 1475-3553 . Taylor & Francis Ltd.
  4. Mill, Struart John. 2005. On Liberty. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. Pigem, Jordi. 2007. Faith-Based Organizations and Education For Sustainability. Report Of The International Experts’ Workshop Held In Barcelona From 22nd To 24th March 2007. Organized by Unescocat — Centre Unesco De Catalunya






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar