Minggu, 07 Agustus 2011

Cabau Kan Senyum-Senyum

Tau gak sih lu, kemaren gue digebet sama cowok baru di sekolah kita itu

Gue diajak jalan-jalan ke Mal gitu,

Terus gue makan malam bareng sama dia

Abis makan malam, gue dibayarin nginep di Hotel

Pokoknya dia baik banget deh.

Dia tajir, ke sekolah aja bawa mobil

Gue rasa gak lama lagi dia bakalan nembak gue

Soalnya dia kayak yang suka gitu ke gue

Gue bakalan traktir lu semua, kalau dia nembak gue

Hey, kenapa lu bengong?

Lu dengerin gue gak sih?



Perjalanan Cicaheum-Cibiru, Juni 2010

“Seperti merekakah generasi Islam?”


Oleh : Farah Pramudita


Jumat, 05 Agustus 2011

Para Banci Berpayung

Bukan untuk para banci

(Yang sesunggguhnya)

Para banci yang jenuh mengutak-atik peraturan

Bagaimana agar dapat orderan banyak dan para banci sesungguhnya kecipratan juga

Tidak perlu belajar memanah dan berkuda

Para banci tidak akan tertarik melakukannya

Mereka perlu duduk saja

Berkutat menyalahkan

Membenarkan yang nyata salah

Mereka para banci yang dipayungi sutra dari ulat yang sedang naik daun



Oleh : Farah Pramudita

Kamis, 04 Agustus 2011

Di Sebuah Rumah

Resah termangu Gadis di temaram lampu kamar

Bayangan yang selalu menakutkan

terbirit-birit di benaknya


Gadis menangis

Ibu terkapar di ranjang

menerawang dalam mata cekungnya

Mengeluarkan obat sekian lama

sampai terhenti batasnya


Ibu bingung

Setiap sore Bapak pulang

membawa sejumput kemarahan

yang disimpannya di balik pintu


Bapak dendam

Genting memberi celah tetesan hujan

masuk dalam baskom alumunium

Bunyinya berirama

Itulah kisah musikalisasi drama

yang dimainkan oleh Gadis

sebagai anak yang hamil di luar nikah

akibat pergaulan bebas


Ibu yang tercekik lehernya karena beban ekonomi

Dan Bapak berperan sebagai seorang bisnisman

yang selalu kalah dalam persaingan bursa saham

Serta untuk aransemen musik

diiringi oleh genting retak, tetesan hujan,

dan baskom alumunium

Selain itu, acara ini di dukung penuh oleh liberalisme dan kapitalisme

Semoga anda enggan menontonnya



Oleh : Farah Pramudita

Selasa, 02 Agustus 2011

Hak Mereka

Kampung Beting, Koja, Jakarta Utara

Sudut ibu kota tak terjamah

Ditelan lambung kosong melompong

Digerus lahan sengketa tak terurus


Miris sudah lusuh badanmu

Getir sudah nasib tuamu

Ditinggal zaman tak berpihak

Meski hanya menuntut segenggam hak

Tak ada RT, RW, apalagi ajudan Tuhan yang mengerti

Sekadar menuntut ilmu rasanya harus menunggu mati


Sungguh ironi rahim negeri ini

Gedung tinggi tak terdaki

Terlampau jauh untuk dinikmati

Pejabat-pejabat tuli yang berdasi

Hanya jadi bualan mimpi






Oleh : Sang Penyair

Senin, 01 Agustus 2011

Otak Keladi

Bukan tentang langit senja

Melukis semesta hadirkan gulita

Bukan pula tentang petaka

Isyarat Tuhan sedikit berita


Tentu saja tentang prahara

Dagelan politik menjelma tanya

Menerka-nerka otak keladinya

Siapa pendusta tak penting rasanya

Selama busuk dikunyah berita


Sudahlah cukup jujur saja

Sebelum jeruji buatmu derita

Digusur paksa aparat kuasa

Dipancung pasal tindak pidana

Karena KORUPSI tak kan pernah buatmu lega





Oleh : Sang Penyair