Jumat, 08 April 2011

Hujan... (Puisi)

Gemercik hujan membasahi Jiwa……

Hati yang gersang kembali tersirami

Terasa sejuk…

Kelam ………

Hening ………


Laksana Suara Seruling sang gembala

Mengiringi Bayangan sukma nan lara

Hujan berucap padaku…

Tak aku dengar katanya ……

Namun ku tau harapnya


Cintaku……

Diantara Gemercik Hujan

KuLelap dalam pangkuan malam…..

Terbuai bersama dalam belain Kasihmu

Kuingin Engkau manyapaku esok dengan suguhan pelangi

Kita bernyanti Tentang Sebuah kidung duka anak gadis

Agar……..

Dari sini ke kotamu

Laksana ….. setalangkah kaki



Mataram, 08 April 2011

“ Amel”

Tak Sendiri (Puisi)

Pagi ini aku tak sendiri

Melangkah gontai beranjak pergi

Menuju bingar jakarta tepi

Gelap ku lalui

Dingin aku tak peduli


Seperti tak biasa

Kudapati tubuh tertidur pulas

Di selasar teras ruko tak beralas


Atau gadis binal berbaju nakal

Asyik nikmati asap sebatang rokok

Berlalu pergi membawa sunyi

Tinggalkan kisah cerita sampah


Semoga esok tak lagi ku jumpa

Buram wajah negeri yang sama



Oleh : Sang Penyair

Senin, 04 April 2011

Kasih (Puisi)

Diri meramu asa dalam jiwa

Kala mentari mulai terbenam

Bayang-bayangmu mulai hadir


Mengusik hati yang duka

Kasih kini kau tak ada lagi

Kau pergi bersama mentari


Kasih andai kau hadir dalam jamuan malamku

Kan kupinta padamu

Pergilah ………. Bawa serta cinta yang pernah kau suguhkan


Aku kini milik rembulan

Aku kan merangkai indahnya malam dengan sinarku

Bercanda dengan bintang-bintang


Kasih hati ini tetap ada dirimu

Namun …….

Kan kukubur ia bersama waktu

Kan kubenamkan ia dalam lautan hati yang mulai beku oleh rasa cinta


Kasih ….. kala ia akan hadir lagi maka kan kubiarkan ia hadir bersama jiwa yang lesu hingga sampai pada Sang Penguasa Hati.



Mataram, 07 Desember 2010

“Amel”

Sabtu, 02 April 2011

Masih Tentang Jakarta (Puisi)

Jakarta
Masih dengan deru mesin angkot-angkot tua
Beradu lari mengikis congkaknya hari
Hingga tiba malam meninggi
Masih saja ramai tersaji


Jakarta
Masih dengan letupan suara jelata
Terhampar gratis tanpa harga
Menahan suara lambung bicara
Diterkam getir tak surut meraja


Jakarta
Masih sembunyi dibalik dinding rasa
Terhalau iba sulit menderma



Oleh : Sang Penyair

Jumat, 01 April 2011

Nikmati Alam (Puisi)

Road to Sumedang dan Bandung

Ditemani gulita awan mulai menggantung

Meski kuharap hujan tak lekas murung

Basuh jalanan dingin mengepung


Semoga langkah tiba selamat

Dalam lindungan penjagaan-Nya erat

Menuju singgah kantuk memberat


Ingin segera kukecup malam

Nikmati sejuk perkasa alam

Syukuri karunia-Nya mengucap salam

Endapi qalbu lantunkan kalam



Oleh : Sang Penyair